Taman Soekasada yang sekarang dikenal dengan nama Taman Ujung dibangun oleh raja Karangasem I Gusti Bagus Jelantik, yang bergelar Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Taman Ujung dibangun pada tahun 1901 dengan nama Kolam Dirah, artinya kolam tempat pembuangan bagi orang yang menguasai ilmu hitam. Kemudian pada tahun 1909, Raja Karangasem memerintahkan seorang arsitektur Belanda bernama Van Den Hentz dan arsitektur orang Tiongkok bernama Loto Ang untuk mengembangkan Kolam Dirah menjadi tempat peristirahatan Raja Karangasem. Pembangunan Taman Ujung ini juga melibatkan Undagi (Arsitek Bali). Taman Ujung selesai dibangun pada tahun 1921 dan diresmikan dalam sebuah Prasasti yang berbahan Marmer yang bertuliskan naskah dalam aksara Latin dan Bali pada tahun 1937. Kemegahan Taman Ujung sempat rusak akibat meletusnya Gunung Agung tahun 1963, yang kemudian diperparah dengan gempa bumi di tahun 1979. Namun, penyelamatan dan revitalisasi telah membawa Taman Ujung kembali ke masa kejayaannya. Oleh karena istana air ini merupakan salah satu warisan budaya di Kabupaten Karangasem, maka pemerintah menetapkan Taman Ujung sebagai objek wisata budaya.
Canon EOS 700D | 1/2000 sec. | f/5 | ISO-400
Gambar
di atas memperlihatkan pintu gerbang pertama menuju Taman Soekasada Ujung. Arsitektur
perpaduan antara Eropa dan Asia membuat gerbang masuk utama Taman Soekasada
Ujung begitu megah selayaknya "benteng" pertahanan pada zaman
kolonial. Tak dipungkiri pula banyak wisatawan yang berfoto dengan latar
belakang gerbang yang berisikan nama TAMAN SOEKASADA untuk memperlihatakan tempat
yang mereka kunjungi. Hal tersebut secara tidak langsung mempromosikan
keberadaan Taman Soekasada Ujung ini ke halayak umum untuk dikonsumsi sebagai
tempat wisata sejarah dan budaya yang terdapat didalamnya.
Canon EOS 60D | 1/8000 sec. | f/9.5 | ISO-2500
Ketika
memasuki kawasan Taman Soekasada Ujung dari sisi Timur, tentu pertama kita
sebagai wisatawan akan membayar karcis masuk untuk bisa menikmati keindahan
Taman Soekasada Ujung. Setelah itu, kita akan disuguhkan dengan pemandangan area Taman
Soekasada Ujung seperti gambar diatas. Perpaduan antara arsitek Eropa dan Undagi membuat bangunan ini terlihat seperti "Raisa" yang cantik dan indah
ketika kita dekati serta taman-taman yang selalu mendampingi untuk menambah
keindahan bangunan yang berdiri kokoh sampai saat ini yang diberi nama
"Istana Gantung”. Pemberian nama Istana Gantung dikarenakan bangunan ini
terlihat seperti menggantung. Tempat ini dulunya digunakan sebagai tempat
peristirahatan raja dan tempat semedi bagi raja Karangsem saat itu yang membuat
bangunan ini masih begitu sakral yang didalamnya terdapat tempat tidur yang
digunakan sebagai meditasi raja Karangasem dulunya.
Di
depan kolam juga terdapat wahana air yang diperuntukan untuk wisatawan yang
berkeingian untuk menjelajahi Kolam Dirah. Wisatawan cukup mebayar karcis
untuk menunggangi bebek tak berkaki yang siap mengantarkan mereka untuk
menikmati pemandangan Taman Soekasada Ujung dari tengah-tengah kolam. Selain
itu, wisatawan juga bisa melihat serta memberi makan ikan yang begitu
melimpah di kolam tersebut.
Canon EOS 60D | 1/500 sec. | f/19 | ISO-3200
Selain
wahana air wisatawan juga bisa melihat beraneka ragam bunga yang berada di
Taman Soekasada Ujung yang menambah keindahan dan kecantikan yang disuguhkan
Taman Soekasada Ujung seperti yang terlihat dibawah seakan bunga ini sebagai
penyambut kita sebagai Wisatawan saat melihat bangunan yang terdapat di Taman
Soekasada Ujung.
Canon EOS 700D | 1/320 sec. | f/3.5 | ISO-200
Bunga-bunga
nan indah ini tumbuh diarea sisi kiri dan kanan jalan setapak yang berbatu
sikat yang menambah pesona dari tempat ini. Jalan setapak yang bersih dan dihiasi
berbagai pepohonan yang rindang membuat wisatawan akan betah untuk berlama-lama di Taman Soekasada Ujung ini.
Canon EOS 60D | 1/8000 sec. | f/3.5 | ISO-500
Seperti
dibawah ini terlihat tanaman nan indah dan rindang selalu mendampingi jalan setapak
yang ada di area Taman Soekasada Ujung, dengan hiasan lampu yang berjejer rapi
selayaknya "taman kota" di tengah-tengah pedesaan.
Canon EOS 700D | 1/320 sec. | f/3.5 | ISO-200
Ketika
wisatawan
bersedia berjalan menusuri anak tangga yang menjulang ke atas maka wisatawan akan bisa menjumpai
bangunan tanpa atap dan dinding yang disebut dengan bangunan "Balai
Kapal" yang memiliki arsitektur ala Eropa.
Canon EOS 60D | 1/3000 sec. | f/8 | ISO-400
Sesuai dengan namanya, Balai ini dulunya digunakan untuk melihat kapal penjajah yang berada di Selat Lombok. Dengan pantauan dari Balai ini membuat pesisir dari Desa Seraya terlihat dengan jelas, dengan panorama yang indah dengan hamparan laut dan bukit yang menjulang, sehingga tak heran tempat ini sebagai spot untuk berfoto bagi anak ABG zaman sekarang :)
Sesuai dengan namanya, Balai ini dulunya digunakan untuk melihat kapal penjajah yang berada di Selat Lombok. Dengan pantauan dari Balai ini membuat pesisir dari Desa Seraya terlihat dengan jelas, dengan panorama yang indah dengan hamparan laut dan bukit yang menjulang, sehingga tak heran tempat ini sebagai spot untuk berfoto bagi anak ABG zaman sekarang :)
Canon EOS 60D | 1/500 sec. | f/6.7 | ISO-400
Di
balai ini bisanya juga wisatawan menyaksikan terbitnya sang surya dari ufuk
timur dan tak heran juga dengan pemandangan dan bangunan bak kerajaan ini
membuat Balai Kapal tak luput sebagai tempat Pre Wedding untuk pasangan yang
mejalin hubungan ke jenjang pernikahan yang serasa bagaikan raja dan ratu yang
sedang bermadu kasih :)
Canon EOS 60D | 1/350 sec. | f/6.7 | ISO-400
Tak
kalah menakjubkan lagi dari atas Balai Kapal terlihat bentangan pantai yang
merupakan ujung timur Pulau Bali dan perbukitan Desa Seraya serta
bangunan-banguan Kerajaan Taman Soekasada Ujung yang begitu menghiasi mata,
membuat kita merasakan indahnya ciptaan Tuhan yang tak terhingga. Perjalanan
menaiki tangga untuk mencapai Balai Kapal ini serasa terbayarkan dengan
pemandangan yang disuguhkan membuat mata tak mampu untuk berkedip.
Canon EOS 60D | 1/250 sec. | f/11 | ISO-640
Selain
mata ini tak mau berkedip akan pamandangan yang disuguhkan, dari atas juga
terdapat taman yang menawarkan aneka bunga yang indah dan menarik mata untuk
mendekatinya. Background perbukitan menambah keindahan dari taman bunga
ini selayaknya "bunga desa" yang menjadi primadona dikalangan kaum Adam.
Tak kalah lagi dengan deretan tanaman yang sengaja disusun sedemikian rupa yang membentuk suatu kata dengan tulisan Taman Soekasada yang menandakan bahwa Taman Soekasada Ujung ini bersih dan indah dan terbebas dari polusi dengan tanaman yang hidup didalamnya.
Canon EOS 60D | 1/350 sec. | f/8 | ISO-400
Kebersihan
dan keindahan Taman Soekasada Ujung tidak terlepas dari peran si "Biru
Muda" yaitu DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) Kab.
Karangasem bak pahlawan yang selalu ada dengan dedikasi yang tinggi
"membasmi" sampah dan menjaga keindahan Taman Soekasada Ujung.
Canon EOS 60D | 1/90 sec. | f/11 | ISO-640
Tidak
hanya membersihkan sampah tanaman yang berguguran DKP Karangasem juga rutin
melakukan pemotongan rumput yang sudah tinggi di area Taman Soekasada Ujung
untuk menambah daya tarik Wisatawan akan tata kelola yang baik dan kebersihan
Taman Soekasada Ujung sehingaa Wisatawan tidak pernah bosan untuk terus
berkunjung ke Taman nan bersih ini.
Canon EOS 700D | 1/160 sec. | f/3.5 | ISO-200
Selain
menggunakan mesin seperti di atas untuk memotong rumput, tim DKP Karangasem
juga menggunakan pemotongan rumput manual untuk memotong tanaman yang sudah
saling berlomba menjulang ke atas agar kelihatan tertata dengan rapi di area
objek wisata budaya dan sejarah Taman Soekasada Ujung.
Canon EOS 700D | 1/250 sec. | f/3.5 | ISO-200
Tidak
berhenti disana,
tim DKP juga membersihkan kolam yang berada di Taman Soekasada Ujung dengan
menggunakan boat. Sampah dedaunan dan sampah plastik yang ada karena ulah wisatawan
yang tidak bertanggung jawab akan keindahan taman yang terus terjaga.
Sebenarnya, kita sebagai wisatawan harus ikut berperan dalam menjaga warisan budaya dan
kerajaan Taman Soekasada Ujung agar tetap indah dan bersih karena itu bukan
hanya tugas dari para pahlawan kebersihan, supaya nantinya taman yang kita
cintai ini bisa terus membanggakan Karangasem pada khususnya bahkan Bali dan
Indonesia pada umumnya.
Canon EOS 700D | 1/200 sec. | f/3.5 | ISO-200
Dengan
kebersihan yang intens dilakukan oleh team DKP Karangasem membuat
suasana Taman Soekasada Ujung selalu bersih dan tertat rapi, sehingga seperti
dibawah banyak wisatawan lokal memanfaatkan kenyamanan dan keindahan itu
untuk jooging sembari melihat pemandangan di sekelilingnya.
Canon EOS 60D | 1/180 sec. | f/11 | ISO-640
Tidak
hanya kebersihan yang intens membuat Taman Soekasada Ujung terkenal
sampai saat ini namun dari bangunan-bangunan prasejarah Kerajaan Karangasem
merupakan hal utama yang membuat wisatawan berkunjung ke tempat ini.
Pada
zaman dahulu tepatnya pada zaman Hindia Belanda, Taman Soekasada Ujung ini
dinamakan dengan Water Paleis yang airtinya adalah “Istana Air”.
Mengapa pada masa Hindia Belanda tempat ini dinamakan Istana Air? Karena memang
sebagian besar Taman Soekasada Ujung adalah kolam air yang indah. Seperti
ditunjukkan pada gambar dibawah ini, bangunan yang terdapat ditengah-tengah
kolam ini disebut dengan bangunan Balai Wantilan (Kambang) sesuai dengan yang
tertulis pada batu yang ada dibawah tempat masuk ke Balai ini. Balai ini hanya
memiliki satu jembatan untuk mengakses balai wantilan sehingga ketika akan
keluar harus melewati jembatan yang sama.
Canon EOS 60D | 1/3000 sec. | f/4 | ISO-500
Jembatan
menuju Balai Wantilan (Kambang) sangat eksotis dikarenakan jembatan ini
terlihat seperti jembatan ala Eropa dengan ukiran-ukiran yang menarik,
menjulang tinggi dan rapi membentang ditengah kolam yang menghubungkan langsung
dengan Balai Wantilan (Kambang) tempat Raja dulu melakukan pertemuan Kerajaan
dan tempat melaksanakan proses penyelidikan atau mengadili suatu permasalahan.
Canon EOS 60D | 1/8000 sec. | f/3.5 | ISO-400
Selain
Balai Wantilan (Kambang) juga terdapat Balai Gili (Kambang) yang merupakan tempat
Raja beristirahat dan sebagai tempat meditasi Raja serta "bersanda
gurau" dengan keluarga Besar Kerajaan, sekarang tempat ini berisikan
jejeran foto-foto Raja, bangunan dan keluarga Besar Kerajaan yang masih sampai
saat ini tertata rapi di dalam bangunan Balai Gili (Kambang) dan juga
ada satu kamar yang disucikan tidak boleh dimasuki oleh Wisatawan dikarenakan
kamar tersebut merupakan tempat meditasi Raja pada zamannya.
Bangunan Balai Gili (Kambang) ini dihubungkan oleh jembatan dari selatan dan dari arah utara dengan Gapura disepanjang jembatan, bentuk Gapura Menuju Bale Gili (Kambang) terlihat menggunakan bentuk lengkung, seperti kubah Mesjid, hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh bentuk/langgam Eropa. Dikarenakan bangunan ini merupakan bangunan yang dibuat dari perpaduan atar arsitek Eropa dan undagi arsitek Bali.
Canon EOS 700D | 1/400 sec. | f/3.5 | ISO-200
Selain
itu terdapat pula Balai Bundar yang berada di sebelah barat Balai Gili
(Kambang). Sesuai dengan namanya, Balai Bundar ini berbentuk bundar dari tempat
ini Wisatawan dapat melihat pemandangan dari ketinggian untuk melihat kolam dan
Balai Gili (Kambang) yang berada dibawahnya selain itu bangunan ini dulunya
merupakan tempat meditasi Raja Karangasem A.A. Anglurah Ketut Karangasem, di
sela-sela kesibukan untuk mengurus pemerintahan Kerajaan.
Canon EOS 60D | 1/1500 sec. | f/9.5 | ISO-4000
Dari
ketinggian, wisatawan bisa melihat secara keseluruhan objek wisata sejarah
Taman Soekasada Ujung dengan menaiki tangga yang berada di sebelah Barat Balai
Gili (Kambang). Mata wisatawan akan dipuaskan akan pemandangan laut di Selat
Lombok, Perbukitan Seraya, dan tentunya Taman Soekasada Ujung itu sendiri.
Canon EOS 700D | 1/400 sec. | f/3.5 | ISO-200
Pemandangan
yang ditawarkan tidak hanya sebatas bangunan-bangunan, kolam, taman bunga dan
lainnya namun terdapat juga berjejeran patung-patung yang menambah eksotika
Taman Soekasada Ujung sebagai destinasti tempat liburan budaya dan sejarah yang
berada di Ujung Timur Pulau Bali.
Canon EOS 60D | 1/350 sec. | f/19 | ISO-4000
Selain
patung-patung tersebut yang membuat indah mata dengan ukiran-ukiran Bali,
Wisatawan juga dimanjakan dengan disediakannya tempat duduk untuk beristirahat
dikala wisatawan merasa lelah mengelilingi indahnya Taman Soekasada Ujung. Di sini
pula dengan berdiam diri wisatawan juga bisa melihat pemandangan Taman
Soekasada Ujung yang tak kalah menarik dengan mengelilingi Taman Soekasada
Ujung.
Selain
fungsinya sebagai tempat istirahat, tempat ini juga diperuntukan untuk memberi
makan ikan yang berada di kolam yang terdapat di Taman Soekasada Ujung.
Wisatawan cukup merogoh kocek Rp 2.000,00 untuk membeli pakan ikan yang sudah tersedia
di sebelah utara kolam Dirah serta wisatawan bisa dengan leluasa langsung
melemparkan pakan ikan di kolam tersebut.
Canon EOS 60D | 1/1500 sec. | f/3.5 | ISO-500
Ikan-ikan
tersebut menyantap dengan lahap setiap pakan yang diberikan wisatawan (seperti
terlihat dibawah). Pakan ikan yang sedikit tidak sebanding dengan jumlah ikan
yang ada sehingga membuat ikan berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan pakan dari
para wisatawan. Dengan hal itu, wisatawan juga bisa melihat gempuran para ikan,
sampai-sampai ikan yang berada disana seperti berterbangan diatas air dikarenakan ikan-ikan itu saling berebut untuk mendapatkan makanan.
Canon EOS 700D | 1/320 sec. | f/2.5 | ISO-400
Tak
kalah menarik di kebun yang berada disebelah utara Balai Gili (Kambang)
terdapat beberapa hewan yang sengaja dipelihara oleh pengelola Wisata sejarah
dan budaya Taman Soekasada Ujung untuk menambah daya tarik dari para Wisatawan,
seperti angsa, ayam jepang, ayam mutiara, dan lainnya. Seperti yang ditunjukkan
dibawah ini merupakan salah satu hewan dari beberapa jenis hewan yang
dipelihara di Taman Soekasada Ujung yaitu Ayam Mutiara, Ayam ini merupakan
jenis ayam hias yang memiliki keindahan bulu yang melekat pada tubuhnya yang
unik dan merupakan ayam yang berasal dari benua kulit hitam "Afrika".
Canon EOS 60D | 1/350 sec. | f/4.5 | ISO-800
Di
sebelah kiri dan kanan taman yang berisikan hewan-hewan peliharaan dan jalan
setapak yang berada di Taman Soekasada Ujung dihiasi dengan berbagai bunga yang
indah dan cantik yang menambah kesempurnaan dalam mengunjungi Taman Soekasada
Ujung, yang menyebaban Wisatawan enggan untuk pulang jikalau sudah memasuki
area sejarah dan budaya di Timur Pulau Bali ini.
Canon EOS 700D | 1/200 sec. | f/3.5 | ISO-200
Dengan
berbagai corak, jenis, dan warna yang berbeda, bunga tersebut bagaikan
pelangi yang terlihat tanpa adanya biasan air. Oleh karena itu, tidak salah
jika banyak yang mengabadikan jenis-jenis bunga yang berada di Taman ini dengan
berfoto ria sembari melihat kumbang yang terus berkeliaran untuk hinggap di
putik bungan nan indah, mengisyaratkan bunga itu berkata "kami ada disini
untuk kalian :)".
Canon EOS 700D | 1/320 sec. | f/3.5 | ISO-200
Semua
hal yang berada di dalam Taman Soekasada Ujung seperti "surga" yang
berada di belahan Bumi ini dengan semua yang ada, mulai dari bangunan, kolam,
hewan, tumbuhan dan lainnya membuat mata tak terpejam dengan keindahan yang
disuguhkan taman sejarah ini. Tak kalah juga diluar area Taman Soekasada Ujung wisatawan juga bisa membeli ikan segar dari tangkapan para nelayan yang ada di
sekitar pesisir laut Seraya.
Canon EOS 700D | 1/1000 sec. | f/5 | ISO-400
Dengan
semua hal yang ada di Taman Soekasada Ujung ini tidak heran jika setiap hari
ada saja yang mengunjungi wisata yang penuh dengan sejuta keindahan yang tak
tertandingi. Semoga dengan hal tersebut juga diiringi dengan pelayanan dan
kebersihan dari Taman Soekasada Ujung dan tentunya kesadaran dari berbagai
pihak untuk menjaga warisan kerajaan Karangasem ini sehingga untuk kedepannya
Taman ini terus bisa berkembang dan mengharumkan Karangasem, serta Bali dan
Indonesia pada umumnya akan sejuta sejarah dan keindahan yang ditawarkan....
"Tan Hana Wang Swasta Nulus"
"Depang Anake Ngadanin"
SEMOGA BERMANFAAT ....!!! :)
- Mei 27, 2017
- 0 Comments